Bel rumah terdengar berbunyi menandakan ada orang di balik gerbang itu. Azlan yang daritadi memang menunggu seseorang, segera saja berlari untuk menemui orang yang di mau.

Azlan begitu excited, senyum cerah nya menggambarkan jika hatinya sudah siap untuk bertemu dengan orang yang ingin azlan perbaiki hubungannya.

Namun setelah gerbang terbuka, senyum yang terpatri di wajahnya langsung luntur tergantikan dengan senyum canggung yang entahlah azlan harus bagaimana menanggapi nya.

Di depan situ, Milan berdiri dengan menenteng kresek bening yang isinya 2 cup kopi. Azlan pastikan jika pertanyaan tadi di aplikasi whatsapp itu hanya alibi Milan saja.

Ahh, harus bagaimana azlan menghadapi Milan? Apakah dia senang? Atau gundah sebab yang datang bukan seseorang yang dia nantikan kehadirannya. Meski begitu, azlan tidak seburuk itu dengan mendiamkan Milan yang sudah jauh-jauh datang dari Jakarta.

"Gak ada kerjaan banget sumpah lu." Ucap azlan dengan mengerlingkan mata yang di balas tawa oleh Milan.

Merasa gemas, Milan mengacak surai lembut milik azlan yang langsung di tepis pelan oleh sang empu.

"Kerjaan gue kan ini. Gue nepatin janji buat nemuin lu seminggu sekali."

"Gila lu, stress tau gak?"

"Stress demi lu gapapa. Asal lu happy."